Bercorak batik

Selasa, 09 Oktober 2012

batik lagi batik lagi
Daya tarik furniture kayu bercorak batik

Memanfaatkan popularitas kain batik yang semakin mendunia, sekarang  tidak hanya pelaku bisnis pakaian atau barang-barang fashion saja yang menggunakan kecantikan corak batik untuk mendapatkan untung besar setiap bulannya. Melihat antusias konsumen yang semakin besar, parapelaku usaha di bidang furniture pun kini tidak menyia-nyiakan peluang tersebut dan mulai melirik corak batik untuk mempercantik produk-produk unggulannya.
Seperti halnya kain batik yang kini populer, usaha furniture kayu bercorak batik pun memberikan daya tarik tersendiri bagi para konsumen di berbagai penjuru nusantara. Ukiran batiknya yang sangat cantik dan bentuknya yang terbilang unik, belakangan ini mencuri perhatian konsumen lokal, nasional, bahkan diminati pasar internasional. Tidaklah heran bila produk furniture batik ini sekarang telah melanglang buana hingga ke beberapa negara, seperti Perancis, Belanda, India dan Australia.

Sentra furniture batik

Salah satu sentra kerajinan furniture batik yang cukup terkenal di Indonesia adalah Kampoeng Laweyan yang terletak di daerah Solo, Jawa Tengah. Memproduksi aneka macam produk furniture yang tak jauh berbeda dengan batik tulisan tangan. Sekarang ini pengrajin di Kampoeng Leweyan telah mengembangkan produknya menjadi beberapa pilihan, seperti kursi batik, meja batik, lemari batik, dan lain sebagainya. Pembuatan furniture batik ini sama persis dengan proses pembuatan kain batik tulis, hanya saja yang membedakan adalah materi utama yang digunakan berupa kayu.
Selain sentra Batik Kampoeng Laweyan, produk Mataram Furniture dari Yogyakarta yang digawangi oleh Dalyono juga memproduksi furniture kayu bercorak batik dengan desain yang unik dan bernilai seni cukup tinggi. Dengan omset 500-700 juta per bulannya, sekarang ini produk furniturenya telah dipasarkan hingga Bali, Bandung, Jakarta, Makassar, Batam, dan Kebumen. Bahkan sekarang ini telah menjangkau pasar ekspor hingga negara Belanda, Perancis dan India.
Tak mau kehilangan peluang pasar yang masih terbuka lebar, Muhammad Abduh (40) juga tertarik terjun menekuni usaha furniture batik dengan membidik konsumen kelas atas. Memanfaatkan kayu jati sebagai media membatik, Abduh mematok harga paling murah Rp 2 juta rupiah untuk satu buah meja kecil yang terbuat dari ukiran batik kayu jati. Ia sengaja membidik konsumen dari para kolektor barang antik, tidaklah heran bila harga jualnya pun cukup tinggi jika dibandingkan dengan produk-produk furniture batik yang lainnya.
Keunikan bentuk furniture yang ditawarkan dan cantiknya ukiran batik yang menghiasinya, menjadikan daya tarik furniture kayu bercorak batik semakin hari semakin diminati konsumen. Semoga informasi ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi para pemula untuk segera menjalankan sebuah usaha. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.

0 komentar:

Posting Komentar

my music


Pengikut

About Me